HANOK_rumah ku kelak [amin ya ALLAH]

HANOK_rumah ku kelak [amin ya ALLAH]
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya. Semoga blog ini mendatangkan manfaat untuk saudara. Annyeonghaseyo. Korea Selatan, tunggu aku menyapamu

Selasa, 07 Agustus 2012

Belajar dari Dukuh Deliksari


Assalamualaikum wr. wb.
Hari itu, Ahad, 29 Juli 2012, Departemen Sosial, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang (BEM FMIPA Unnes 2012) menjalankan program kerja (progja) untuk melakukan buka puasa bersama di masjid At-Taqwa yang terletak di kampung binaan BEM FMIPA 2012 yaitu di dukuh Delik Sari, Semarang. [*hmmmm.... tata tulis bahasa Indonesia yang tidak kurang efektif karena terlalu banyak tanda baca koma dalam satu kalimat, maaf. /(^____^)\ ]. Setelah sholat Asar, kami para fungsinaris berkumpul di mabes tercinta (PKM) dan setelah mamastikan semuanya sudah dipersiapkan dengan baik oleh panitia desa binaan (desbin), maka kami para fungsionaris BEM FMIPA 2012 yang berkenan mengikuti buka bersama (buber) segera bergegas menuju ke desbin Delik Sari.
Jarak yang tidak begitu jauh dari Unnes, tapi jalan terjal yang ditempuh membuat tempat ini luar biasa. Untuk menuju ke Delik Sari, kami harus menelusiri jalan selebar kurang lebih tiga meter dengan turunan tajam yang curam nan penuh liku ataupun tanjakan yang tidak kalah curam dan terjal pula. Kondisi jalan yang penuh dengan pasir yang menjadikan jalan licin, pun keadaan fisik jalan yang sudah berlubang di sana sini. Membutuhkan kehati-hatian ekstra tinggi saat melintasi medan ini. Selain jalannya yang turunnnn dan naikkkk pun berkelok-kelok, medan lurus yang kami lintasi tidak kalah ekstrim, yaitu jembatan yang dibawahnya terhampar jurang yang airnya mengering dan ditumbuhi rerumputan yang subur.
Ini pertama kali bagi saya mendatangi perkampungan dukuh Delik Sari. Rasa kampungan dan terkagum-kagum pun bergemuruh di dalam diri ini. Ketercenganaganku akan pemandangan menakjubkan di Delik Sari tidak puas bila hanya berhenti di sini, setelah jalan beberapa meter dari jalan raya (jalan utama Trangkil/Sampagan??) menuju ke masjid At-Taqwa, saya melihat sudah mulai tampak permukiman penduduk. Dan kira-kira apa saudara-saudara yang saya lihat mengenai permukiman penduduk? Apakah bangunan sekelas hotel berbintang lima? Atau hunian glamour nan elegan yang banyak tersebar di kota-kota besar? Bukan seperti itu saudara! Bukan seperti itu yang saya saksikan!!!!
Di Delik Sari yang nampak hanyalah permukiman-permukiman yang teramat sangat sederhana. Permukiman yang hanya seluas 3x3 meter dengan dinding terbuat dari bilik dan atap sederhana yang memperkuat kesan bangunan sangat rapuh pun tersaji di sana. Lantainya tentu beralaskan tanah. Tidak berapa lama, pun lebih banyak tersaji hunian-hunian serupa yang luas bangunannya lebih lebar beberapa meter, masih dengan atap yang reot, dinding bilik ataupun dari papan usang, beralaskan tanah nan kokoh ataupun alas keras sekedarnya. Tempat mandi yang rawan dan kecil terpisah dari bangunan utama juga tak luput dari pengamatan saya.
Ya, hampir dan bahkan nyaris semua hunian yang saya saksikan di Delik Sari adalah hunian semacam ini. Tidak jarang bangunan itu condong ke samping, saya tidak habis pikir bagaimana bila hujan dan angin kencang menyapa permukiman ini. Bagaimana nasib rumah yang atapnya berlubang di sana-sini? Rumah yang konstruksinya miring? Rumah yang berdindingkan bilik ataupun papan usang? Rumah yang beralaskan tanah sedang mereka tidak mempunyai dipan?
Serta tidak jarang terpampang kandang ayam berbentuk kotak dari pagar-pagar bambu seringgi kurang lebih satu mater masih dengan ciri bangunan yang miring seperti menara Pisa yang ada di Roma. Sebagai pelengkap, tersaji pula sebuah penampung air (tandon air) raksasa terpampang jelas di sana beserta puluhan dirigen serta ember-ember besar tersebar di sekitar penampung air. Rupanya apa yang terjadi saudara? Ya, Delik Sari masih mahal air, kekurangan air bersih, masyarakatnya pun mengantri untuk mendapatkan pasokan air bersih.
Berjalan selama kurang lebih tujuh menit, sampailah kami di tempat seperti di bukit yaitu di masjid At-Taqwa. Masjid yang saat saya hitung luasnya kurang lebih sebesar 12x9 meter dengan teras masjid kurang lebih seluas dua meter. Di depan pintu utama masjid terdapat kotak hitam kurang lebih berukuran 30x60 sentimeter bertuliskan tinta putih dari susunan huruf I-N-F-A-Q, ya itu adalah kotak infaq masjid. Di dalam atap masjid juga terpasang dua buah kipas angin yang mengkhawatirkan. Di dekat mimbar khutbah ada sebuah kipas angin kecil dan menjulur berbagai macam kabel.
Memulai acara buber dengan sambutan-sambutan dan permainan hafalan surat pendek dalam juz 30, hafalan doa sehari-hari dan doa berbuka puasa cukup membuat suasana melebur penuh senyum merekah dan tawa-tawa renyah. Anak-anak yang hadir antusias untuk maju dan mendapatkan hadiah. Mendekati waktu berbuka, anak-anak baris memanjang dua bersab untuk antri mendapat snack dan takjil (astaga, sampai ada yang jatuh dan tertindih, serta saling dorong-mendorong. Pikiran ini jauh menerawang. Oh Tuhan, ini baru pembagian snack seharga Rp.500,00/orang [/orang dapat 1 snack] sudah seperti ini suasananya. Saya tidak bisa melihat saat pembagian takjil di teras masjid bagaimana suasananya. Pantas saja jika ada berita di TV yang mengabarkan betapa riuh dan penuh sesaknya serta tidak kondusifnya suasana yang terjadi saat si dermawan membagikan uang kepada mereka yang membutuhkan, tidak jarang juga mereka yang antri sampai pingsan dan terinjak, astaga, miris). Cukup.
Menuju ke tempat wudhu. Saat azhan berkumandang merdu kami segera membatalkan puasa dan harus menunggu saat hendak mangambil air wudhu. Setelah antri, apa yang kami saksikan di tempat wudhu dan kamar kecil yang ada di samping tempat wudhu? Hanya ada satu tempat wudhu beserta satu kamar kecil jadi tidak ada pembedaan tempat wudhu beserta kamar kecil baik untuk laki-laki maupun perempuan. Satu kamar kecil itu berukuran sangat minimalis tanpa ada WC dan TANPA PINTU penutup kamar mandi, Astagfirullah. Pun kurnag lebih ada lima kran yang berjajar di arena wudhu yang cukup terbuka ini.
Astagfirullah....... miris diri ini melihat masih ada daerah yang seperti ini dan berada di dekatku sedang saya sendiri baru tersadar ternyata masih ada daerah yang seperti ini. Pemandangan seperti ini masih terjadi di Pulau Jawa, di sebuah kota yang mengemban amanah sebagai ibu kota provinsi Jawa Tengah, Semarang. Ya, di Semarang. Oh Tuhan.......
Lingkungan yang seperti gambaran “lebay” dari seorang Hesti Prasasti Putri Ummi, lantas apa yang selanjutnya menjadi tanda tanya besar di pikiran saudara? Ya, penduduknya. Bagaimana dengan penduduk Delik Sari? Buber yang dilaksanakan di desbin Deik Sari melibatkan anak-anak kecil yang tinggal di Delik Sari, pun ada beberapa orang tua yang turut datang untuk menemani buah hatinya sepanjang agenda buber. Pun datang dua tokoh masyarakat Delik Sari meberi sambutan dan sebagainya. Anak-anak yang terlihat ceria dan berpenampilan sangat sederhana. Anak-anak yang kecerdasan emosinya belum terkontrol dengan baik, emosi yang masih dengan mudah bergejolak meledak-ledak. Saya kaget melihatnya. Karena tiba-tiba ada anak yang saling beradu mata kekerasan, adu dada yang membusung, adu kekuatan yang menggebu, adu amarah yang memuncak. Sampai ada seorang anak lelaki yang entah tanpa alasan yang jelas suka marah-marah dan ingin menggigit orang yang ada di dekatnya, sungguh ini mengkhawatirkan. Sepenagkpan saya, orang-orang di sini cenderung keras dan kecerdasan emosinya masih labil.
Inilah sepenggal kisah yang saya dapat saat berkunjung ke bumi Allah di dukuh Delik Sari, Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Inilah yang saya lihat dan saya rasakan saat ada di Delik Sari, ini dari sudut pandang saya. Mungkin akan berbeda lagi apabila dilihat dari sudut pandang anda. Mungkin semua yang saya luapkan ini berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang anda lihat dan rasakan di Delik Sari.
Semoga ada banyak yang dapat kita ambil dan pelajari dari Delik Sari. /(^____^)\
Jangan hanya sekedar simpati, gunakan empati. Fighting....!! Wujud nyata lebih bermakna.
Waalaikumsalam wr. wb.

Tidak ada komentar: